BENTUK-BENTUK STRUKTUR SOSIAL

snb
BENTUK-BENTUK STRUKTUR SOSIAL
A. PENDAHULUAN
“Suatu ketika Konfusius berkata, “Aku ingin engkau pergi bersamaku, dan menyamaratakan sepenuhnya kekaisaran ini”. Sang pelayan menjawab: “kekaisaran tidak dapat disamaratakan; di sini ada pegunungan-pegunungan yang tinggi, di sana ada danau-danau dan sungai-sungai. Jika pegunungan-pegunungan tinggi harus diratakan, maka burung-burung dan binatang-binatang buas tidak memiliki tempat tinggal; jika danau-danau dan sungai-sungai itu harus ditimbun sampai penuh, maka ikan dan kura-kura tidak mempunyai lagi tempat berenang; jika kita menghilangkan raja dan para bangsawan, maka akan banyak terjadi perselisihan tentang benar dan salah di antara rakyat; sedang jika kita menghapuskan budak dan pelayan, maka siapa yang akan melayani para pangeran?” (Sumber: Richter, 1987: 221)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa perbedaan sosial merupakan gejala yang sudah terdapat sejak jaman dahulu. Dalam masyarakat selalu ada kelompok-kelompok yang tertata dan terstruktur, baik secara horizontal maupun vertikal. Hal tersebut membentuk sebuah susunan atau struktur sosial.
B. APA ITU STRUKTUR SOSIAL?
Berikut adalah beberapa pengertian struktur sosial menurut para ahli:
• Menurut Talcott Parsons (Sunarto, 2004: 54), berbicara tentang struktur berarti berbicara tentang kesalingterkaitan antarinstitusi, bukan antarindividu.
• Menurut Coleman, struktur adalah pola hubungan antarmanusia dan antarkelompok manusia.
• William Kornblum (1988: 77) mendefinisikan struktur sosial sebagai pola perilaku berulang-ulang yang menciptakan hubungan antarindividu dan antarkelompok dalam masyarakat.
• Menurut Calhoun (1997: 7), struktur sosial adalah pola hubungan-hubungan, kedudukan-kedudukan, dan jumlah orang yang memberikan kerangka bagi organisasi manusia, baik dalam kelompok kecil maupun keseluruhan masyarakat.
• Borgatta & Borgatta (1992: 1997) menyatakan, struktur sosial adalah lingkungan sosial bersama yang tak dapat diubah oleh orang perorang, yang menyediakan konteks atau lingkungan bagi tindakan manusia.
Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa pengertian struktur sosial adalah tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat, yang didalamnya terkandung hubungan timbal balik antara status dan peranan dengan batas-batas perangkat unsur-unsur sosial yang mengacu pada suatu keteraturan perilaku di dalam masyarakat.
Terdapat empat elemen dasar dari struktur sosial. Keempat elemen tersebut yaitu:
1. Kedudukan (status)
-pengertian
-macam-macam status (ascribed, achieved, assigned)
2. Peran (role)
-pengertian
3. Kelompok
-pengertian
4. Lembaga
-pengertian
Ada dua konsep pokok dalam pemnicaraan tentang struktur sosial, yaitu diferensiasi sosial (pembedaan sosial) dan stratifikasi sosial (pelapisan sosial).

C. DIFERENSIASI SOSIAL
1. Pengertian Diferensiasi Sosial
Diferensiasi adalah proses munculnya perbedaan antara hal-hal yang semula sama. Sedangkan diferensiasi sosial dapat dipahami sebagai pemilah-milahan warga masyarakat secara horizontal atau mendatar sehingga melahirkan kelompok-kelompok yang bersusun ke samping tanpa menunjukkan adanya perbedaan tingkatan antara kelompok yang satu dengan yang lain.
2. Jenis-jenis Diferensiasi Sosial
Secara sistematis, perbedaan sosial dapat dipilah berdasarkan sumbernya, yaitu sebagai berikut:
• Alamiah, meliputi perbedaan ras, jenis kelamin, usia, dan intelegensi.
• Sosial (lebih dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan budaya), meliputi perbedaan etnis, gender, agama, dan pekerjaan.
3. Pengaruh Diferensiasi
• Primordialisme : Suatu paham yang menganggap bahwa kelompoknya lebih baik dibanding dengan kelompok lainnya.
• Etnosentrisme : Suatu sikap atau paham yang menganggap budaya masyarakatnya lebih tinggi dibanding dengan budaya masyarakat lain
• Sektarian (Politik Aliran) :Keadaan dimana sebuah kelompok atau organisasi tertentu dikelilingi oleh sejumlah organisasi massa, baik formal maupun informal yang menjadi pengikutnya.

D. STRATIFIKASI SOSIAL
1. Pengertian
Kata stratifikasi merupakan terjemahan dari stratification (bahasa Inggris) yang bermakna pelapisan. Kata stratification sendiri berasal dari bahasa Latin ‘stratum’ atau strata yang bermakna lapisan.
Secara umum, kata stratifikasi/ pelapisan berarti proses peletakan serangkaian benda ke dalam tumpukan berkesinambungan dan sekaligus mengelompokkan benda-benda yang memiliki kesamaan pada posisi yang sama. Sedang dalam sosiologi, kata stratifikasi berarti proses dimana keluarga-keluarga atau orang perorang dibedakan satu sama lain dan ditata dalam lapisan-lapisan yang bervariasi tingkat prestise, kekayaan, dan/atau kekuasaannya.
Berikut pengertian statifikasi sosial menurut para ahli:
• Macionis (1997: 236) mendifinisikan stratifikasi sosial sebagai sistem kategori penjenjangan manusia dalam suatu masyarakat ke dalam satu jenjang urutan dari atas ke bawah/hierarkis.
• Giddens (1993: 213) mengartikan stratifikasi atau pelapisan sebagai ketidaksamaan antara kelompok-kelompok manusia yang distrukturkan.
• Kamanto Sunarto (2004: 110) mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status yang dimilikinya.
• Berger mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penjenjangan masyarakat menjadi hubungan atasan-bawahan atas dasar kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan.
Ada empat prinsip dasar statifikasi sosial, yaitu sebagai berikut:
a. Statifikasi sosial adalah ciri khas dari masyarakat dan bukan sekedar refleksi dari perbedaan individual.
b. Statifikasi sosial bertahan dari generasi ke generasi.
c. Stratifikasi sosial bersifat universal namun juga bervariasi.
d. Statifikasi sosial mencangkup ketidaksamaan dan kepercayan-kepercayaan.
2. Jenis-jenis Stratifikasi Sosial
1. Sistem Primitif
Stratifikasi sosial di dalam masyarakat primitif sesungguhnya tidak terlalu tampak karena semua sarana produksi (contoh: tanah) menjadi milik bersama dan alat-alat atau kekayaan lain yang ada dibagi menjadi milik bersama dan alat-alat atau kekayaan lain yang ada dibagi secara merata/adil di antara anggota masyarakat (suku primitif).
Satu hal yang menonjol dalam kehidupan suku-suku primitif adalah bahwa kedudukan sebagai dukun atau kepala suku itu tidak dapat diwariskan. Hanya dengan menunjukkan kelebihannya dalam bidang berburu, penguasaan obat-obatan atau magis tertentu, dan juga kepemimpinan, maka seseorang dapat menduduki posisi sebagai dukun atau ketua suku. Dengan demikian, suku-suku primitif itu sudah menetapkan apa yang dikenal sebagai merit system atau meritrokasi, yaitu sistem pengisian’jabatan’ berdasarkanpada prestasi seseorang, bukam karena hubungan darah atau pewarisan.
2. Sistem Feodal
Dalam sistem feodal terdapat tiga lapisan sosial, yaitu raja, kaum bangsawan, dan para hamba. Hal yang paling menonjol dalam sistem feodal adalah adanya lembaga perhambaan pribadi (personal bondage) yang bersifat tetap, dimana seorang hamba wajib hidup di dalam ‘manor’ (tempat tinggal bangsawan/tuan tanah) dan membayar bermacam-macam sewa karena para bangsawan memiliki hak yang sah atas tenaga kerja para hambanya.
3. Sistem Perbudakan
Perbudakan adalah ketidaksamaan antara manusia yang paling ekstrim karena ada manusia yang dimiliki oleh manusia lain sebagai milik/kekayaannya. Ciri paling menonjol adalah bahwa budak itu milik dari tuannya sehingga mereka diperlakukan sebagai barang/kekayaan layaknya hewan piaraan ataupun peralatan rumah tangga. Praktik perbudakan bermacam-macam. Pada zaman Yunani Kuno, para budak adalah penduduk yang kalah perang atau korban perampokan.
4. Sistem Kasta
Kasta adalah sistem stratifikasi yang didasarkan pada status kelahiran seseorang, biasanya karena perintah agama, cenderung pasti dan tidak boleh berubah. Umumnya, sistem kasta terkait dengan ajaran agama Hindu.
Salah satu masyarakat yang masih menganut sistem kasta adalah India. Dalam bahasa India, kasta disebut ‘varna’ (warna) atau ‘jati’. Dalam bentuk aslinya, kasta di India terdiri atas empat kategori, yaitu sebagai berikut.
• Brahmana, yaitu pendeta dan pemimpin agama.
• Ksatria, yaitu pejuang/tentara dan pemimpin militer.
• Waisa, yaitu pedagang, para tukang, petani, dan pekerja kanto/juru tulis.
• Sudra, yaitu pembantu rumah tangga dan buruh tani.
Ada empat aspek kehidupan yang menentukan kasta seseorang, yaitu sebagai berikut:
a. Kelompok-kelompok kasta tradisional biasanya terkait dengan pekerjaan.
b. Kasta mewajibkan pernikahan dari kasta yang sama, atau sistem endogami.
c. Kasta memberikan pedoman hidup sehari-hari sehingga orang tetap berada dalam lingkungan ‘mereka sendiri’.
d. Sistem kasta bersandar pada kepercayaan yang amat kuat.
5. Sistem Kelas
Sistem kelas adalah stratifikasi sosial didasarkan pada prestasi individu. Kelas sosial adalah kelompok orang yang menduduki posisi yang sama dalam sistem stratifikasi sosial karena menduduki posisi ekonomi yang sama (Calhoun, 1997: 180).
Menurut analisis Karl Marx, terdapat dua kelas dalam masyarakat kapitalis yang dibedakan berdasarkan kepemilikan alat-alat produksi, yaitu:
• Kelas borjuis, memiliki dan menguasai alat-alat produksi (pabrik-pabrik dan mesinnya).
• Kelas proletar, tidak memiliki alat produksi (hanya tenaga kerja) sehingga harus menjadi pekerja bagi kaum borjuis.
Namun menurut Max weber (Johnson, 1988: 223-226), sebenarnya ada tiga kriteria perbedaan antar kelas sosial, yaitu sebagai berikut:
• Kekayaan, adalah milik seseorang yang bernilai atau sering disebut sebagai harta kekayaan.
• Prestise, adalah penghargaan, penghormatan atau persetujuan sosial yang diberikan kepada orang yang memiliki sifat atau simbol yang dianggap terpuji oleh masyarakat.
• Kekuasaan, adalah kemampuan untuk mengontrol perilaku dan kegiatan orang lain bahkan jika orang lain tersebut menolaknya.
Jadi, berdasarkan kriteria di atas, ada tiga jenis penataan orang-orang secara hierarkis dalam suatu sistem stratifikasi kelas, yaitu sebagai berikut:
a. Stratifikasi berdasarkan ekonomi
b. Stratifikasi berdasarkan budaya
c. Stratifikasi berdasarkan politik
Sistem kelas memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Bersifat cair
2. Keanggotaan diperoleh melalui prestasi
3. Mobilitas lebih sering terjadi
4. Bergantung pada perbedaan ekonomis
5. Hubungan antara kelas bersifat non pribadi
6. Sistem Sosialisme Negara
Dalam sistem sosialisme negara yang radikal (masyarakat komunis ala Marxis), maka sesungguhnya diinginkan terwujudnya masyarakat tanpa kelas (classless society).
3. Fungsi Stratifikasi Sosial
a. Distribusi hak-hak istimewa yang objektif
b. Sistem pertanggaan yang menyangkut prestice dan penghargaan
c. Kriteria sistem pertentangan
d. Penentu lambang-lambang atau simbol status atau kedudukan
e. Tingkat mudah atau sukarnya bertukar kedudukan
f. Sebagai alat solidaritas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s